Defender Black Blue
Back to top

Pages

Selasa, 21 Oktober 2014

Contoh Dongeng

Hai readers! Kali ini aku mau ngepost sesuatu. Sesuatunya itu sesuatu. Ini karanganku sendiri waktu kelas 7. Ya biasa kelas 7 imajinasi masih kemana-mana. Dibaca, ya!



TIGA HATI YANG MENYATU
         Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan di Negeri Antahbrantah, hiduplah seorang putri bernama Putri Elina. Dia sangat cantik dan baik hati. Dia tinggal bersama Ibu dan Ayahnya. Setiap hari, Putri Elina selalu bermain dengan temannya, Alexa.
         Suatu hari, Ayah Putri Elina mengalami sakit yang sangat parah. Seorang Tabib pun didatangkan dari negeri seberang,
        “Baginda mengalami sakit yang sangat parah” kata Tabib tersebut.
        “Lantas apa yang dapat menyembuhkan Baginda?” tanya Ibu Putri Elina.
        “Baginda hanya bisa diobati dengan selembar daun permata yang hanya terdapat di Istana Permata.” jawab Sang Tabib.
        “Di mana letak Istana tersebut?” tanya Ibu Elina kembali.
        “Istana tersebut telah dikutuk oleh nenek sihir yang sangat jahat, sehingga istana tersebut, terkubur di dalam tanah.” ulas Sang Tabib.
        “Lantas, apa yang bisa membuat istana tersebut bangkit kembali?” tanya Ibu Elina.
        “Entah, saya tidak tahu.” jawab Sang Tabib singkat.
         Tiba-tiba, Putri Elina masuk ke kamar Sang Ayah. Sepertinya, dia mendengar pembicaraan antara Ibunya dengan Sang Tabib.
       “Tenang saja, Bu! Aku yang akan pergi mencari daun permata itu.” jelas Putri Elina.
       “Jangan, Nak! Itu terlalu berbahaya.” kata Sang Ibu.
       “Tidak apa-apa, Bu. Demi Ayah.” jawab Putri Elina.
Lalu, Sang Ibu pun meneteskan air mata dan memeluk Putri Elina sambil berkata, “Terima kasih, Anakku. Kau memang berhati mulia.”
         Pada suatu malam, Putri Elina duduk termenung di taman belakang kerajaan. Dia bertanya kepada bintang-bintang di langit,
        “Apakah aku bisa mencari obat untuk Ayah? Apakah aku akan pergi sendirian?”
Bintang-bintang di langit hanya berkelap-kelip. Tiba-tiba, seseorang datang mengejutkannya. Ternyata, dia adalah Alexa, teman baiknya.
        “Hei! Mengapa engkau termenung sendiri, wahai sahabatku?” ucap Alexa.
        “Kau ini, mengagetkanku saja! Aku sedang memikirkan esok.” kata Putri Elina.
        “Memangnya kenapa?” tanya Alexa.
        “Esok aku akan pergi ke Istana Permata. Aku harus mencari daun permata untuk Ayahku yang sedang sakit, tetapi aku tidak yakin bisa melakukannya sendiri.” jawab Putri Elina yang sedih itu.
         “Tenang saja sahabatku, aku akan selalu setia menemanimu”, sahut Alexa.
         “Benarkah?” tanya Putri Elina singkat.
         “Tentu saja, apa yang tidak untukmu?” jawab Alexa.
         “Terima kasih, kawanku. Kau adalah segalanya bagiku.” ucap Putri Elina.
          Keesokan harinya, dengan membawa perbekalan seadanya mereka berdua memulai petualangannya.
          “Kemana kita harus pergi?” tanya Alexa.
          “Menurut Tabib Ayahku, kita harus pergi ke arah Bunga Matahari yang berkilau.” jawab Putri Elina.
          “Baiklah, siapa yang sampai duluan, dialah pemenangnya.”
Mereka berlari dengan gembira menuju ke arah Bunga Matahari yang berkilau.
           Sesampainya mereka di ujung Bunga Matahari yang berkilau, mereka berhenti sejenak.
           “Ke mana selanjutnya kita pergi?” tanya Alexa.
           “Kita harus pergi ke arah Bunga Dandelion yang menawan.” jawab Putri Elina.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka mendengar suara yang aneh dari semak-semak. “Tolong-tolong!”.
            “Tunggu sebentar, apa kau mendengar sesuatu?” ucap Putri Elina.
            “Iya, aku mendengar sesuatu. Sepertinya suara itu berasal dari semak-semak. Coba kita cari asal suara itu.”
Tanpa disangka, di sebuah semak belukar terdapat sebuah kotak musik yang di dalamnya ada seorang perempuan yang sangat cantik. Mereka berdua bingung dan bertanya-tanya,
            “Siapa kamu? Mengapa kamu bisa ada di dalam kotak musik ini?” tanya keduanya.
            “Namaku Melody, aku berasal dari Istana Permata. Aku dikutuk oleh penyihir. Apakah kalian bisa menolongku untuk menghilangkan kutukan penyihir?” jelas Melody.
           “Tapi, bagaimana caranya?” tanya Alexa.
           “Hanya persahabatan abadi yang bisa menjawabnya.”
Lalu, mereka membawa Melody pergi bersamanya melanjutkan perjalanan.
            Sesampainya mereka di ujung Bunga Dandelion, tiba-tiba Alexa berkata, “Wah, indah sekali tempat ini! Aku merasa berada di surga.”
            “Benar sekali, tempat ini sangat indah, tetapi kita harus segera melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai malam.” kata Putri Elina.
            “Tidak, aku mau di sini saja! Aku sudah nyaman di sini.” sahut Alexa.
            “Kita harus mengantar Melody pulang, dan harus mencari daun permata.” jawab Putri Elina.
            “Baiklah kalau begitu.” ucap Alexa.
            Mereka melanjutkan perjalanan yang tidak jauh dari ujung Bunga Dandelion.
            “Ini dia, hutannya. Melody, di mana letak istanamu?” tanya Putri Elina.
            “Di sini! Ucapkanlah sebuah kalimat persahabatan kalian, maka istana akan bangkit.” jawab Melody.
Mereka berdua sangat kebingungan dan bertanya-tanya, “Apa kalimat itu?” tanya Alexa. Setelah sejenak mereka berpikir, mereka pun menemukan jawabannya. Serentak mereka menjawab, “Tiga Hati yang Menyatu”.
             Tanah di sekitar hutan bergerak. Muncullah sebuah istana yang indah dari dalam tanah. Seketika itu pula, kutukan Melody hilang. Putri Elina dan Alexa kagum melihat istana yang megah itu. Putri Elina langsung mengambil daun permata yang dibutuhkannya.
              “Terima kasih, kawanku.” ucap Melody.
              “Ya, sama-sama.” jawab mereka singkat.
              “Apakah kalian mau tinggal bersamaku?” tanya Melody.
              “Tapi, aku harus mengantar daun ini. Ayahku sedang sakit.” jawab Putri Elina.
              “Baiklah kalau begitu, kalian jangan malu-malu untuk bermain ke sini. Semoga kalian selamat sampai tujuan.” kata Melody.
Putri Elina dan Alexa pulang ke kerajaannya dengan kereta kuda.
               Sesampainya di istana, Putri Elina segera memberikan daun permata itu kepada Tabib untuk diberikan kepada Ayahnya. Setelah meminum obat, Ayah Putri Elina kembali sehat. Keluarga Putri Elina hidup dengan bahagia kembali. Alexa diangkat menjadi saudara Putri Elina karena kebaikannya yang tulus ikhlas.

Amanat yang dapat diambil: Janganlah kita bersikap egois, tolonglah orang yang membutuhkan kita, karena itu akan membawa kebaikan.
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About