TIGA HATI YANG MENYATU
Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan
di Negeri Antahbrantah, hiduplah seorang putri bernama Putri Elina. Dia sangat
cantik dan baik hati. Dia tinggal bersama Ibu dan Ayahnya. Setiap hari, Putri
Elina selalu bermain dengan temannya, Alexa.
Suatu hari, Ayah Putri Elina mengalami
sakit yang sangat parah. Seorang Tabib pun didatangkan dari negeri seberang,
“Baginda mengalami sakit yang sangat
parah” kata Tabib tersebut.
“Lantas apa yang dapat menyembuhkan
Baginda?” tanya Ibu Putri Elina.
“Baginda hanya bisa diobati dengan
selembar daun permata yang hanya terdapat di Istana Permata.” jawab Sang Tabib.
“Di mana letak Istana tersebut?” tanya
Ibu Elina kembali.
“Istana tersebut telah dikutuk oleh
nenek sihir yang sangat jahat, sehingga istana tersebut, terkubur di dalam
tanah.” ulas Sang Tabib.
“Lantas, apa yang bisa membuat istana
tersebut bangkit kembali?” tanya Ibu Elina.
“Entah, saya tidak tahu.” jawab Sang
Tabib singkat.
Tiba-tiba, Putri Elina
masuk ke kamar Sang Ayah. Sepertinya, dia mendengar pembicaraan antara Ibunya
dengan Sang Tabib.
“Tenang saja, Bu! Aku yang akan pergi mencari
daun permata itu.” jelas Putri Elina.
“Jangan, Nak! Itu terlalu berbahaya.”
kata Sang Ibu.
“Tidak apa-apa, Bu. Demi
Ayah.” jawab Putri Elina.
Lalu, Sang Ibu
pun meneteskan air mata dan memeluk Putri Elina sambil berkata, “Terima kasih,
Anakku. Kau memang berhati mulia.”
Pada suatu malam, Putri Elina duduk
termenung di taman belakang kerajaan. Dia bertanya kepada bintang-bintang di langit,
“Apakah aku bisa mencari obat untuk
Ayah? Apakah aku akan pergi sendirian?”
Bintang-bintang di langit hanya berkelap-kelip. Tiba-tiba, seseorang datang mengejutkannya.
Ternyata, dia adalah Alexa, teman baiknya.
“Hei! Mengapa engkau termenung sendiri,
wahai sahabatku?” ucap Alexa.
“Kau ini, mengagetkanku saja! Aku
sedang memikirkan esok.” kata Putri Elina.
“Memangnya kenapa?” tanya Alexa.
“Esok aku akan pergi ke Istana Permata.
Aku harus mencari daun permata untuk Ayahku yang sedang sakit, tetapi aku tidak
yakin bisa melakukannya sendiri.” jawab Putri Elina yang sedih itu.
“Tenang saja sahabatku, aku akan selalu setia menemanimu”, sahut Alexa.
“Benarkah?” tanya Putri Elina singkat.
“Tentu saja, apa yang tidak untukmu?” jawab Alexa.
“Terima kasih, kawanku. Kau adalah segalanya bagiku.” ucap Putri Elina.
Keesokan harinya, dengan membawa
perbekalan seadanya mereka berdua memulai petualangannya.
“Kemana kita harus pergi?” tanya
Alexa.
“Menurut Tabib Ayahku, kita harus
pergi ke arah Bunga Matahari yang berkilau.” jawab Putri Elina.
“Baiklah, siapa yang sampai duluan,
dialah pemenangnya.”
Mereka berlari dengan gembira menuju ke
arah Bunga Matahari yang berkilau.
Sesampainya mereka di ujung Bunga
Matahari yang berkilau, mereka berhenti sejenak.
“Ke mana selanjutnya kita pergi?”
tanya Alexa.
“Kita harus pergi ke arah Bunga
Dandelion yang menawan.” jawab Putri Elina.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di
tengah perjalanan, mereka mendengar suara yang aneh dari semak-semak. “Tolong-tolong!”.
“Tunggu sebentar, apa kau mendengar
sesuatu?” ucap Putri Elina.
“Iya, aku mendengar sesuatu.
Sepertinya suara itu berasal dari semak-semak. Coba kita
cari asal suara itu.”
Tanpa disangka,
di sebuah semak belukar terdapat sebuah kotak musik yang di dalamnya ada
seorang perempuan yang sangat cantik. Mereka berdua bingung dan bertanya-tanya,
“Siapa kamu? Mengapa kamu bisa ada
di dalam kotak musik ini?” tanya keduanya.
“Namaku Melody, aku berasal dari
Istana Permata. Aku dikutuk oleh penyihir. Apakah kalian bisa menolongku untuk
menghilangkan kutukan penyihir?” jelas Melody.
“Tapi, bagaimana caranya?” tanya
Alexa.
“Hanya persahabatan abadi yang bisa
menjawabnya.”
Lalu, mereka
membawa Melody pergi bersamanya melanjutkan perjalanan.
Sesampainya mereka di ujung Bunga
Dandelion, tiba-tiba Alexa
berkata, “Wah, indah sekali tempat ini! Aku merasa berada di surga.”
“Benar sekali, tempat ini sangat
indah, tetapi kita harus segera melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai
malam.” kata Putri Elina.
“Tidak, aku mau di sini saja! Aku
sudah nyaman di sini.” sahut Alexa.
“Kita harus mengantar Melody pulang,
dan harus mencari daun permata.” jawab Putri Elina.
“Baiklah kalau begitu.” ucap Alexa.
Mereka melanjutkan perjalanan yang
tidak jauh dari ujung Bunga Dandelion.
“Ini dia, hutannya. Melody, di mana
letak istanamu?” tanya Putri Elina.
“Di sini! Ucapkanlah sebuah kalimat
persahabatan kalian, maka istana akan bangkit.” jawab Melody.
Mereka berdua
sangat kebingungan dan bertanya-tanya, “Apa
kalimat itu?” tanya Alexa. Setelah sejenak mereka berpikir, mereka pun
menemukan jawabannya. Serentak mereka menjawab, “Tiga Hati yang Menyatu”.
Tanah di sekitar hutan bergerak.
Muncullah sebuah istana yang indah dari dalam tanah. Seketika itu pula, kutukan
Melody hilang. Putri Elina dan Alexa kagum melihat istana yang megah itu. Putri
Elina langsung mengambil daun permata yang dibutuhkannya.
“Terima kasih, kawanku.” ucap
Melody.
“Ya, sama-sama.” jawab mereka singkat.
“Apakah kalian mau tinggal
bersamaku?” tanya Melody.
“Tapi, aku harus mengantar daun
ini. Ayahku sedang sakit.” jawab Putri Elina.
“Baiklah kalau begitu, kalian
jangan malu-malu untuk bermain ke sini. Semoga
kalian selamat sampai tujuan.” kata Melody.
Putri Elina dan Alexa pulang ke
kerajaannya dengan kereta kuda.
Sesampainya di istana, Putri
Elina segera memberikan daun permata itu kepada Tabib untuk diberikan kepada
Ayahnya. Setelah meminum obat, Ayah Putri Elina kembali sehat. Keluarga Putri
Elina hidup dengan bahagia kembali. Alexa diangkat menjadi saudara Putri Elina
karena kebaikannya yang tulus ikhlas.
Amanat yang dapat diambil: Janganlah
kita bersikap egois, tolonglah orang yang membutuhkan kita, karena itu akan
membawa kebaikan.
TAMAT